12 March 2012

Pengembangan Sistem Pakar Berbasis Aturan Untuk Menentukan Penjurusan di Sekolah Menengah


Abstrak

Sistem Pakar merupakan salah satu bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang dirancang untuk mengambil keputusan seperti keputusan yang diambil oleh seorang pakar, dimana Sistem Pakar menggunakan pengetahuan (knowledge), fakta, dan teknik berfikir dalam menyelesaikan masalah-masalah yang biasanya hanya dapat diselesaikan oleh seorang pakar dari bidang yang bersangkutan. Aplikasi Sistem Pakar Berbasis Aturan yang dikembangkan bertujuan untuk membantu guru BK di dalam memutuskan penjurusan siswa sekolah menengah sesuai dengan kriteria dan aturan-aturan yang telah ditentukan sehingga dapat memberikan keputusan yang tepat. Aplikasi ini menggunakan Software Shell Exsys Professional versi 5.

Kata Kunci : Kecerdasan Buatan, Sistem Pakar Berbasis Aturan, Penjurusan.

Abstract
Expert System is one of the areas of artificial intelligence which is designed to make decisions like the decision made by an expert, which the expert system uses knowledge, facts, and thinking techniques to solve the problems that typically can only be solved by an expert from the relevant field. Application Rule-Based Expert System developed aims to assist BK teachers in deciding Course of high school students in accordance with the criteria and rules that have been defined so as to provide the right decision. This application uses Shell Exsys Professional Software version 5.

 Keyword : Artificial Intelligence, Rule Base Expert System, Course    

1.      Pendahuluan
Perkembangan di bidang komputer sangatlah pesat, salah satunya adalah teknik untuk membuat komputer mampu mengolah pengetahuan yang dikenal dengan teknik kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Dengan pendekatan ini manusia mencoba membuat komputer dapat berfikir seperti cara yang dipakai manusia untuk memecahkan masalah. Salah satu bidang kecerdasan buatan adalah sistem pakar atau expert system yang dapat meniru proses penalaran para pakar dalam memecahkan masalah. Teknologi komputer berusaha memindahkan pengetahuan dari pakar ke dalam komputer agar dapat digunakan pada berbagai bidang sesuai dengan kepakaran yang dimaksudkan.
Penjurusan atau Course yang ditawarkan di level pendidikan menengah sudah diterapkan di Indonesia sejak jaman Belanda. Sekolah HBS yang merupakan Sekolah Menengah untuk anak-anak Eropa, dan AMS yang merupakan sekolah menengah atas untuk anak-anak pribumi pertama kalinya dibagi atas 2 course yaitu Budaya (Kelompok A) dan Sains (kelompok B). Pada masa-masa selanjutnya sistem penjurusan di Indonesia diterapkan sejak SMP, yang kemudian dihapuskan pada tahun 1962. Sistem penjurusan kemudian hanya dikenal di SMA dengan 3 macam jurusan yaitu A (sains), B (bahasa/budaya) dan C (sosial). Pengistilahan ini mengalami perubahan dan spesifikasi pada masa-masa berikutnya seperti A1, A2, A3, dan A4. Dan akhirnya kembali seperti sekarang, penamaan jurusan tidak lagi menggunakan lambang huruf atau angka, tetapi dengan kategori IPA, IPS, dan Bahasa (IPB) (Murni,2008).
Penjurusan diperkenalkan sebagai upaya untuk lebih mengarahkan siswa berdasarkan minat dan kemampuan akademiknya. Siswa-siswa yang mempunyai kemampuan sains dan ilmu eksakta yang baik, biasanya akan memilih jurusan IPA, dan yang memiliki minat pada sosial dan ekonomi akan memilih jurusan IPS, lalu yang gemar berbahasa akan memilih Bahasa. Pengarahan sejak dini ini dimaksudkan untuk memudahkan siswa memilih major/bidang ilmu yang akan ditekuninya di Universitas atau akademi yang tentunya akan mengarah pula kepada karirnya kelak.
Diawal semester baru para guru Bimbingan Konsuling (BK) bertugas mengelompokkan data siswa yang ingin dan mempunyai kemampuan masuk ke kelas IPA, IPS maupun IPB dengan memberikan surat edaran kepada siswa yang nantinya bisa didiskusikan dengan orang tua mereka.
Saat ini Data yang diterima masih diolah dengan cara manual sehingga menyebabkan proses pengelompokkan siswa tersebut memakan waktu yang cukup lama dan masih menimbulkan keragu-raguan dalam memberikan keputusan. Untuk mengeffisiensikan waktu dan memberikan keputusan yang tepat, dikembangkanlah sebuah Sistem Pakar Berbasis Aturan yang dapat menentukan penjurusan di Sekolah Menengah dengan menggunakan Software shell Exsys professional versi 5.

2.      Pembahasan
Sistem Pakar merupakan salah satu bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Definisi Sistem Pakar itu sendiri adalah sebuah program komputer yang dirancang untuk mengambil keputusan seperti keputusan yang diambil oleh seorang pakar, dimana Sistem Pakar menggunakan pengetahuan (knowledge), fakta, dan teknik berfikir dalam menyelesaikan masalah-masalah yang biasanya hanya dapat diselesaikan oleh seorang pakar dari bidang yang bersangkutan. Dalam pengembangan suatu Sistem Pakar, pengetahuan (knowledge) mungkin saja berasal dari seorang ahli, atau merupakan pengetahuan dari media seperti majalah, buku, jurnal, dan sebagainya. Selain itu pengetahuan yang dimiliki Sistem Pakar bersifat khusus untuk satu domain masalah saja. Semakin banyak pengetahuan yang dimasukan kedalam Sistem Pakar, maka sistem tersebut akan semakin baik dalam bertindak, sehingga hampir menyerupai pakar yang sebenarnya (Marimin,2005).
Gambar 1. Konsep Dasar Sistem Pakar
                                                           
Gambar 1. merupakan gambaran konsep dasar Sistem Pakar, dimana pengguna (user) menyampaikan fakta atau informasi kepada Sistem Pakar, kemudian fakta dan informasi tersebut akan di simpan ke knowledge-base (basis pengetahuan), dan diolah dengan mekanisme inferensi, sehingga sistem dapat memberikan respon kepada penggunanya berupa keahlian atau jawaban berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
Tujuan dari sebuah Sistem Pakar adalah mentransfer kepakaran yang dimiliki seorang pakar kedalam komputer dan kemudian kepada orang lain (non expert). Aktivitas pemindahan kepakaran adalah : (a).Knowledge Acquisition (dari pakar atau sumber lain), (b). Knowledge Representation (ke dalam komputer), (c). Knowledge Inferencing, (d). Knowledge Transfering.
Sistem Pakar disusun oleh dua bagian utama, yaitu lingkungan pengembangan dan
lingkungan konsultasi. Lingkungan pengembangan digunakan untuk memasukkan pengetahuan pakar kedalam lingkungan Sistem Pakar, sedangkan lingkungan konsultasi digunakan pengguna bukan pakar untuk memperoleh pengetahuan pakar.
Gambar 2. Arsitektur Sistem Pakar

Komponen-komponen yang terdapat dalam Sistem Pakar tersebut terdiri dari antarmuka pemakai, basis pengetahuan : fakta dan aturan, akuisisi pengetahuan, mekanisme inferensi, workplace, fasilitas penjelasan, perbaikan pengetahuan.
Antarmuka Pemakai
Antarmuka pemakai memberikan fasilitas komunikasi antara pemakai dan sistem, memberikan berbagai fasilitas informasi dan berbagai keterangan yang bertujuan untuk membantu mengarahkan alur penelusuran masalah sampai ditemukan solusi.
Basis Pengetahuan
Basis pengetahuan berisi pengetahuan untuk pemahaman, formulasi, dan penyelesaian masalah. Komponen ini disusun oleh dua elemen dasar yaitu fakta dan aturan.
Akuisisi Pengetahuan
Akuisisi pengetahuan merupakan proses untuk mengumpulkan data pengetahuan terhadap suatu masalah dari sumber pengetahuan (berasal dari pakar atau media seperti majalah, buku, literatur, dll) kedalam komputer. Sumber pengetahuan tersebut dijadikan dokumentasi untuk diolah, dipelajari dan diorganisasikan menjadi basis pengetahuan.

Mekanisme Inferensi
Komponen ini mengandung mekanisme pola pikir dan penalaran yang digunakan oleh pakar dalam menyelesaikan suatu masalah. Mesin inferensi merupakan bagian dari Sistem Pakar yang melakukan penalaran mengenai informasi yang ada dalam basis pengetahuan dan dalam workplace, dan untuk menformulasikan kesimpulan.

Secara umum terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam mekanisme inferensi untuk pengujian aturan yaitu pelacakan kebelakang (backward chaining) dan pelacakan ke depan (forward chaining). Dalam pelacakan ke belakang adalah pendekatan yang dimotori tujuan (goaldriven), pendekatan ini pelacakan dimulai dari tujuan (hipotesis) dan selanjutnya dicari aturan-aturan yang memiliki tujuan tersebut dan dicari kesimpulannya (pembuktiannya). Sedangkan pelacakan ke depan merupakan pendekatan yang dimotori oleh data (data-driven), pendekatan ini pelacakan dimulai dari informasi masukan, dan selanjutnya mencoba menggambarkan kesimpulan. Selain teknik penalaran tersebut, diperlukan juga teknik penelusuran data dalam bentuk jaringan yang terdiri atas node-node berbentuk pohon. Ada tiga teknik penelusuran data yang digunakan yaitu : depth-first search, breadht-first search dan best first search.
a. Depth-first search ; Merupakan teknik penelusuran data pada node-node secara vertikal dan mendalam.
Gambar 3. Teknik Penelusuran Data Depth First Search

b. Breadth-first search; Merupakan teknik penelusuran data pada semua node dalam satu level atau satu tingkatan sebelum ke level atau tingkatan berikutnya
Gambar 4. Teknik Penelusuran Data Breadth First Search

c. Best-first search; Merupakan teknik penelusuran data yang menggunakan kombinasi kedua metode sebelumnya.

Workplace
Workplace merupakan area dari sekumpulan memori kerja (working memory). Workplace digunakan untuk merekam hasil-hasil antara dan kesimpulan yang dicapai.
Fasilitas Penjelasan
Fasilitas penjelasan sistem merupakan bagian dari Sistem Pakar yang memberikan penjelasan atas kesimpulan yang dicapai tentang suatu masalah, serta memberikan rekomendasi kepada pemakai.
Perbaikan Pengetahuan
Kemampuan pakar dalam menganalisis dan meningkatkan kinerja pembelajaran dapat diterapkan dalam program Sistem Pakar sehingga Sistem Pakar tersebut dapat menganalisis penyebab dari kesuksesan dan kegagalan yang dialami.
Sistem pakar harus mampu bekerja dalam ketidakpastian. Sejumlah teori telah ditemukan untuk menyelesaikan ketidakpastian, termasuk diantaranya probabilitas klasik, probabilitas bayes, teori hartley berdasarkan himpunan klasik, teori shannon berdasakan pada probabilitas, teori Depmster-Shafer, teori fuzzy Zadeh, dan faktor kepastian (certanity factor). Faktor kepastian (Certanity Factor) diperkenalkan oleh Shortliffe Buchanan dalam pembuatan MYCIN (Kusumadewi, 2003). Certanity Factor (CF) merupakan nilai parameter klinis yang diberikan MYCIN untuk menunjukkan besarnya kepercayaan. Certanity Factor (CF) menunjukkan ukuran kepastian terhadap suatu fakta atau aturan.

Syarat Penjurusan ditentukan oleh beberapa kriteria yaitu ;
a). Pilihan siswa yang dikonsultasikan dengan orang tua,
b) Nilai rata-rata akademis siswa
c) Data Psikologis, terdiri dari
-          Intelegensi
Kategori                                     Rentang Nilai
Lambat Belajar                           80-99
Rata-rata bawah                         90-99
Rata-rata                                                100
Rata-rata atas                             101-109
Cerdas                                        110-119
Superior                                      120-139
Jenius                                         140-ke atas
-          Kecerdasan Emosi
Kategori                                     Rentang Nilai
Rendah Sekali                            1-20
Rendah                                       21-40
Sedang                                       41-60
Tinggi                                         61-80
Tinggi Sekali                              81-100
-          Rekomendasi Jurusan
Melalui tes IQ, bakat, kepribadian, minat khusus, dan kecerdasan emosi.

 Dari kriteria diatas dapat dibuat suatu basis aturan/rule yang digunakan dalam mengembangkan sistem diantaranya :
a.       Jika ada nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) lebih dari satu yang memenuhi, jurusan ditentukan berdasarkan pilihan
b.      Jika tidak ada yang memenuhi rata-rata KKM, jurusan ditentukan berdasarkan rata-rata nilai yang paling atas
c.       Jika ketiga rata-rata tidak ada yang memenuhi, jurusan ditentukan berdasarkan pilihan asalkan nilai bidang studinya tidak semua dibawah standar.
d.      Jika misalnya KKM IPA yang memenuhi, pilihannya ke IPS, jurusan dilihat dari pilihan dan nilai IPSnya. Sama seperti ketentuan c.

Software yang digunakan untuk membangun sistem pakar ini adalah Exsys Professional versi 5.0. Rule yang didapatkan dari syarat-syarat penentuan penjurusan tersebut adalah 105. Tapi hanya digunakan 50 rule karena keterbatasan software yang digunakan yaitu maksimal hanya bisa menampung 50 rule. Rule yang diambil dipilih secara acak.
Qualifiers ditunjukan pada Gambar 5 dan choices ditunjukkan pada Gambar 6 dari sistem pakar yang akan dirancang dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 5: Qualifiers












Gambar 6: Choices
Gambar 7. Tampilan salah satu rule dalam sistem


Gambar berikut menunjukkan beberapa tampilan proses pengambilan keputusan

Text Box:   



Gambar 8: Tampilan proses pengambilan keputusan

Dari gambar di atas, dicobakan memasukan semua mata pelajaran >=KKM, IQ=Jenius, EQ=Tinggi Sekali, Pilihan=IPB. Maka hasilnya siswa tersebut akan diterima di Jurusan IPB dengan certainty factor 10.

3.      Pentup

Aplikasi sistem pakar yang dibuat ini mampu menentukan penjurusan siswa sekolah menengah berdasarkan kriteria dengan baik namun karena keterbatasan shell Exsys professional 5 yang hanya mampu menampung kurang lebih lima puluh (50) rule/aturan, membuat aplikasi ini menjadi kurang fleksible dalam pengembangannya. Disarankan menggunakan aplikasi yang lebih fleksible seperti VB atapun berbasis Web sehingga dapat memberikan tampilan dan hasil yang lebih memuaskan bagi pengguna aplikasi sistem pakar.



4.      Daftar Pustaka

Kusumadewi, 2003, Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Yogyakarta:Graha Ilmu

Marimin,2005,Teori dan Aplikasi Sistem Pakar dalam Teknologi Manajerial, IPB Press Bogor

Murni Ramli, 2008, Penjurusan di SMA, http://indosdm.com/penjurusan-di-sma diakses 5 Februari 2010

.

10 March 2012

Menanamkan Kecerdasan Spritual Generasi Muda Hindu berdasarkan Ajaran Veda


Generasi muda Hindu adalah kelompok angkatan usia produktif, terpelajar, dan terdidik yang mempunyai kepribadian kokoh sebagai tempaan bangku sekolah dan pengalaman sehingga ia mandiri, dewasa, serta bijaksana dalam bersikap.
Dalam menghadapi persaingan global, di samping unggul dalam kualitas, generasi muda Hindu mesti unggul pula dalam moral dan etika. Dengan demikian, diharapkan generasi muda Hindu mampu menjadi subjek, bukan hanya penonton, terlebih di rumahnya sendiri. Dalam meningkatkan kualitas diri, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan menjadi sesuatu yang penting. Tanpa itu sulit memenangkan persaingan.
Manusia di abad ini mengetahui bahwa kesehatan adalah hal pokok yang sangat penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Ia tidaklah hanya mencakup aspek physical saja, tetapi juga mencakup aspek-aspek non-physical, yaitu: spiritual, emosional, dan intelektual. Kesehatan jasmani memang menjadi landasan yang utama, tetapi segera setelah itu terpenuhi, kesehatan spiritual, emosional, dan intelektual tidak dapat ditunda, apa lagi diabaikan.
Manusia memerlukan tuntunan spiritual dalam kehidupannya agar dapat melakukan aktivitas tidak hanya berlandaskan keberadaan tubuh (on the bodily platform of existence).
Agama Hindu dengan Kitab Suci-nya: Veda, menyediakan berbagai petunjuk dan perintah Tuhan yang memperkuat aspek spiritual, yang pada gilirannya membentuk emosi yang terkendali, baik dalam berpikir, berkata-kata, maupun berbuat sesuatu. Dalam kesadaran emosi yang positif, tumbuh, dan berkembanglah keinginan untuk selalu meningkatkan inteligensi melalui proses pendidikan dan pembelajaran. Potensi-potensi yang berguna bagi meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia bertumpuk pada generasi muda, sehingga sangat disayangkan bila potensi demikian tidak didayagunakan. Pertumbuhan kecerdasan, kesehatan spiritual, dan nalar berjalan serentak melalui pendidikan formal, pendidikan informal, pendidikan non-formal, pengajaran, kerajinan mendalami ajaran agama, dan kemampuan menghimpun pengalaman-pengalaman positif diri sendiri maupun orang lain melalui komunikasi langsung atau tidak langsung, misalnya dengan membaca buku-buku hasil karya tokoh terkemuka.
Selain itu kecerdasan, kesehatan spiritual, dan nalar akan tumbuh dengan subur bila disertai disiplin tertentu dalam jalan kehidupan spiritual.
Diri manusia adalah ibarat suatu laboratorium raksasa yang selalu mengkaji segala aspek, baik yang tumbuh dari dalam maupun yang datang dari luar dirinya. Disiplin menempuh kehidupan spiritual merupakan pangkal utama keberhasilan seseorang mencapai keunggulan jati diri.
Dalam Brhadaranyaka Upanisad telah ditegaskan bahwa nilai-nilai kebenaran subjektif hanya akan diperoleh bila aspek spiritual diunggulkan dalam kehidupan manusia. Penegasan ini diaplikasikan oleh filsuf Hindu terkenal Adi Sankaracarya, yang menyatakan bahwa aspek spiritual sangat besar pengaruhnya pada nalar manusia. Oleh karena nilai-nilai kebenaran didasari oleh aspek spiritual yang bersifat universal, maka pandangan yang mulanya subjektif kemudian menjadi dualis, yaitu subjektif dan objektif. Artinya nilai-nilai kebenaran yang diyakini seseorang haruslah mendapat pengakuan publik.
Bila demikian ia akan berguna bagi kesejahteraan bersama dalam kehidupan manusia yang harmonis dengan Hyang Widhi (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam semesta (Palemahan).
Ketiga keharmonisan ini disebut “Trihita Karana”. Nilai-nilai kebenaran objektif seperti ini kemudian berkembang menjadi darsana, yaitu sebuah pandangan realitas logis, yang berlandaskan observasi konseptual setelah melalui tes dalam kehidupan manusia.
Bagi mereka yang merasa masih belum mendapatkan atau masih ragu pada nilai-nilai kebenaran, dapat meminta guru spiritual yang dipercaya memberikan pencerahan yang bersumber dari Veda.
Di samping itu para pencari kebenaran hendaknya memelihara roh atau atman yang ada di dalam dirinya dengan baik, dalam pengertian memberikan kesempatan yang luas kepada atman untuk menguasai pikiran.
Dalam filsafat Hinduisme “Advaita”, atman adalah Brahman/ Hyang Widhi. Jadi bila manusia berhasil menguatkan kedudukan atman pada dirinya, berarti ia berhasil pula menguatkan stana Hyang Widhi dalam dirinya.
Ia dengan segera akan mendapatkan pencerahan, sehingga segala kayika (perbuatan) dan wacika (perkataan) terkendali dengan baik dari manacika (pikiran) yang telah dirasuki kemurnian dan kekuatan Brahman.
Kitab suci Veda mempunyai otoritas tertinggi dalam menentukan kebenaran, sedangkan nalar atau pikiran yang disebut tarka menegaskan nilai-nilai itu untuk mencapai intuisi humanist.
Upanisad menyatakan bahwa dengan mendengarkan (sravana), refleksi (nidhiyasana), dan meditasi (upasana) seseorang dapat mencapai pengetahuan intuitif Brahman.
Dengan demikian maka unsur-unsur kebenaran meliputi tiga hal pokok:
  1. Nilai hakiki, yaitu Veda
  2. Sarana, yaitu tarka
  3. Tes kebenaran, yaitu pengakuan publik
Mengenai nilai hakiki dan sarana telah dijelaskan di atas. Kini dilanjutkan dengan masalah tes kebenaran. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan atau sains mempunyai keterbatasan karena hanya mengetahui fakta-fakta di dalam hubungannya dengan fakta yang lebih besar.
Di sisi lain fakta-fakta yang baru dapat menggantikan fakta-fakta yang lama yang sudah dianggap usang dan tidak digunakan lagi.
Kebenaran dalam aspek spiritual yang abadi tidak hanya mencakup hal-hal material saja tetapi juga mencakup aspek-aspek halus yang tidak berwujud misalnya, panca tan matra, yaitu pengaruh panca indria:
  1. Sabda tan matra (pendengaran)
  2. Sparsa tan matra (rasa kulit)
  3. Rupa tan matra (penglihatan)
  4. Rasa tan matra (rasa lidah)
  5. Ganda tan matra (penciuman)
Pengaruh panca tan matra pada atman melalui pikiran kemudian membentuk trikaya (kayika: perbuatan, wacika: perkataan, dan manacika: pikiran).
Trikaya seseorang akan menampilkan tripramana, yaitu rajas, tamas, dan sattwam, yang pada gilirannya menjadi salah satu bagian dalam pembentukan karmawasana. Unsur-unsur karmawasana adalah subha dan asubha karma.
Tes kebenaran spiritual tidak dapat dilakukan secara nyata dan segera, karena memerlukan pembuktian melalui analisis objektif publik. Bagi masyarakat yang keyakinan Hinduisme-nya kuat, salah satu sarana tes kebenaran misalnya dapat diambil dari bagian pancasrada, yaitu karmaphala. Bahwa perbuatan yang baik dan benar akan mendapatkan pahala yang baik, sedangkan perbuatan yang jelek dan salah akan mendapat pahala yang buruk.
Karma phala atau karma pala adalah salah satu dari lima keyakinan (Panca Sradha) dari Agama Hindu agama Dharma. Berakar dari dua kata yaitu karma dan phala. Karma berarti perbuatan/aksi, dan phala berarti buah/hasil. Karma phala berarti buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan. Karma phala memberi optimisme kepada setiap manusia, bahkan semua makhluk hidup. Dalam ajaran ini, semua perbuatan akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Apapun yang kita perbuat, seperti itulah hasil yang akan kita terima. Yang menerima adalah yang berbuat, bukan orang lain. Karma Phala adalah sebuah Hukum Universal bahwa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil. Dalam konsep Hindu, berbuat itu terdiri atas: perbuatan melalui pikiran, perbuatan melalui perkataan, dan perbuatan melalui tingkah laku, Ketiganya lah yang akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat.Kalau perbuatannya baik, hasilnya pasti baik, demikian pula sebaliknya.
Karma Phala terbagi atas tiga, yaitu:
  1. Sancita Karma Phala (Phala/Hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatannya di kehidupan sebelumnya)
  2. Prarabdha Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehikupan saat ini dan Phalanya akan diterima pada kehidupan saat ini juga)
  3. Kryamana Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini, namun Phalanya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang)
Jalan yang dianjurkan untuk mendapat realisasi kebenaran ada bermacam-macam. Masing-masing darsana dari Sarva Darsana Samgraha menyampaikan cara sendiri, ada yang melalui karma marga, melalui bhakti marga, melalui jnyana marga, dan yoga marga atau kombinasi dari keempatnya.
Keberhasilannya tergantung pada disiplin pribadi dan konsistensi pelaksanaan dalam bentuk mengikuti jalan kesucian, meluaskan pengetahuan, dan menebarkan cinta kasih.
Ini tidaklah mudah karena seorang pencari kebenaran akan selalu mendapat godaan, cobaan, dan tantangan. Hakekat kehidupan manusia pada dasarnya selalu berjuang menegakkan kebenaran dan melawan atau menolak ketidakbenaran, atau kesalahan.
Dari segi pendidikan, pandangan bahwa kebenaran tertinggi adalah kebenaran spiritual mestinya selalu ditanamkan sehingga dengan sinar spirit inilah intelektual Hindu akan dapat mewujudkan kehidupan satyam, siwam, sundaram, yaitu kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama (satyam), saling menyayangi sesama umat manusia (siwam), dan sejahtera lahir-batin (sundaram).
Dasar yang kuat untuk mencapai kebenaran spiritual adalah ‘kedekatan’ dengan Sanghyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
Keyakinan akan keberadaan-Nya dapat melalui Catur Pramana, yaitu: Agama Pramana, dari mempelajari kitab suci Veda; Pratyaksa Pramana, merasakan atau mengalami langsung dengan jelas dan nyata delapan ke-Maha Kuasaan-Nya yang disebut sebagai Asta Aisvarya:
  1. Anima = sangat halus
  2. Laghima = sangat ringan
  3. Mahima = sangat besar
  4. Prapti = dapat menjangkau semua tempat
  5. Isitva = melebihi segalanya
  6. Prakamya = berkehendak mutlak
  7. Vasitva = sangat berkuasa
  8. Kamavasayitva = kodrati, tak dapat dirubah
Selanjutnya, catur pramana yang lain adalah Anumana Pramana, yaitu dengan menarik kesimpulan berdasarkan logika, dari unsur-unsur gerakan, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan, dan keteraturan.
Yang terakhir adalah Upamana Pramana, yaitu analogi, dan kesimpulan berdasarkan perbandingan-perbandingan dari unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).
Keempat pramana di atas mewujudkan keyakinan yang kuat yang disebut sebagai Pancasrada, yaitu:
  1. Widhi Tattwa (keyakinan pada adanya Hyang Widhi)
  2. Atma Tattwa (keyakinan pada adanya roh)
  3. Purnabhawa (keyakinan pada adanya re-inkarnasi)
  4. Karmaphala (keyakinan pada hukum karma-phala)
  5. Moksah (keyakinan akan adanya persatuan antara roh/ atman denganTuhan/ Brahman di suatu saat yang tepat, bila kesucian roh memenuhi syarat tertentu atau sama dengan Brahman)
Secara riil upaya mendekatkan diri dengan Sang Pencipta adalah melalui empat jalan atau Catur Marga, yaitu:
  1. Bhakti marga, menyembah, memuja, menghormati dan menyayangi
  2. Karma marga: bekerja, berbuat mencapai tujuan hidup dilandasi ajaran Veda
  3. Jnyana Marga: proses pembelajaran
  4. Yoga Marga: olah badan dan pikiran untuk menghubungkan atma dengan parama atma
Keempat jalan itu tidak dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi serentak bersamaan, namun keseimbangan bobotnya disesuaikan dengan kemampuan individu.
Dalam menempuh keempat jalan itu, kitab suci Veda telah menggariskan hal-hal yang harus dilaksanakan dan hal-hal yang tak boleh dilaksanakan, yaitu:
1. Catur Purushaarta: dharma, artha, kama, dan moksa, di mana urut-urutannya tidak boleh diubah, karena tiada artha yang diperoleh tanpa melalui dharma, selanjutnya tiada kama diperoleh tanpa melalui artha, serta tiada moksa bisa dicapai tanpa melalui dharma, artha, dan kama.
2. Sistacara: kehidupan suci yang membentuk susila
3. Sadacara: taat pada peraturan atau perundangan yang sah
4. Atmanastusti: memelihara hati nurani yang suci
5. Menjauhkan diri dari Sad Tatayi:
  1. Agnida (membakar, memarahi orang, menghasut, dll)
  2. Wisada (meracun atau meracuni dengan kata-kata atau bujukan)
  3. Atharwa (menggunakan ilmu hitam)
  4. Sastraghna (mengamuk/ lepas kendali)
  5. Dratikrama (memperkosa)
  6. Rajapisuna (memfitnah)
6. Waspada pada Sad Ripu yang ada pada diri sendiri:
  1. Kama (nafsu),
  2. Lobha (serakah),
  3. Kroda (marah),
  4. Mada (mabuk),
  5. Moha (sombong),
  6. Matsarya (cemburu, dengki dan iri hati)
7. Laksanakan Trikaya Parisudha, yakni
  1. Perbuatan (kayika) yang baik: ahimsa (tidak membunuh/ menyakiti), tan mamandung (tidak mencuri, korupsi, kkn), tan paradara (tidak berzina)
  2. Perkataan/ ucapan (wacika) yang baik: tan ujar apregas (tidak berkata-kata kasar/ keras), tan ujar ahala (tidak berkata-kata kotor atau membual), tan ujar pisuna (tidak memfitnah), satya wacana (jujur, menepati janji)
  3. Pikiran (manacika) yang baik: tan adengkya ri drwyaning len (tidak iri atau ingin memiliki kepunyaan orang lain), mamituhwa ri hananing karma-phala (percaya pada hukum karma-phala), dan masih ring sarwa satwa (menyayangi semua mahluk)
8. Senantiasa melakukan Asada Brata:
  1. Dharma (taat pada hakekat kebenaran)
  2. Satya (setia pada nusa-bangsa-negara)
  3. Tapa (mengendalikan diri)
  4. Dama (tenang dan sabar)
  5. Wimatsarira (tidak dengki, iri, serakah)
  6. Hrih (punya rasa malu berbuat salah atau dosa)
  7. Titiksa (tidak gusar)
  8. Anasuya (tidak bertabiat jahat)
  9. Yadnya (suka berkorban)
  10. Dana (dermawan)
  11. Dhrti (mensucikan diri)
  12. Ksama (suka memaafkan)
9. Kemampuan mengendalikan Dasa Indria:
  1. Srotendria (pendengaran)
  2. Twakindria (alat peraba, kulit)
  3. Granendria (penciuman)
  4. Caksundria (mata)
  5. Wakindria (lidah/ perkataan)
  6. Panindria (gerakan tangan)
  7. Payundria (membuang kotoran)
  8. Jihwendria (gerakan kaki)
  9. Pastendria (kelamin)
10. Mengendalikan diri melalui Yama Brata:
  1. Arnsamsa (tidak egois)
  2. Ksama (pemaaf)
  3. Satya (setia)
  4. Ahimsa (tidak membunuh/ menyakiti)
  5. Dama (sabar dan tenang)
  6. Arjawa (tulus ikhlas)
  7. Pritih (welas asih)
  8. Prasada (tidak berpikir buruk)
  9. Madhurya (bermuka manis secara tulus ikhlas)
  10. Mardawa (lemah lembut)
11. Menegakkan disiplin melalui Niyama Brata:
  1. Dana (dermawan)
  2. Ijya (rajin bersembahyang)
  3. Tapa (pengendalian diri/ mengekang nafsu)
  4. Dhyana (menyadari kebesaran Hyang Widhi)
  5. Swadhyaya (rajin belajar)
  6. Upastanigraha (menjaga kesucian hubungan sex)
  7. Brata (mengekang nafsu)
  8. Upawasa (puasa)
  9. Mona (mengendalikan pembicaraan)
  10. Snana (menjaga kesucian lahir-bathin)
12. Mengatur tahap kehidupan dalam Catur Ashrama:
  1. Brahmacari (masa konsentrasi belajar)
  2. Griyahasta (berumah tangga dan mengembangkan keturunan)
  3. Wanaprasta (mengurangi ikatan pada keduniawian)
  4. Bhiksuka (mensucikan diri menjadi orang suci)
Intelektual Hindu di masa depan idealnya adalah kelompok yang telah mencapai Sad Guna, yaitu:
  1. Sandhi (mudah keluar dari kesulitan hidup)
  2. Wigrha (berpengaruh luas)
  3. Jana (perkataannya sebagai cerminan pola pikir, dituruti massa)
  4. Sana (selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan)
  5. Wisesa (bijaksana, berwibawa, mudah menaklukkan adharma)
  6. Srya (mendapat simpati/ disenangi)
Pribadi-pribadi yang dalam keadaan sad-guna akan membiaskan vibrasi pada kelompok masyarakat sehingga terwujudlah tatanan kehidupan yang satyam, siwam, sundaram.


Tulisan ini banyak mengambil dari Artikel karangan Bhagawan Dwija Warsa Sandhi
dari Griya Lingga Singaraja-Bali

Daftar Pustaka
Bhagawan Dwija,2009, Intelektual Hindu di Masa Depan, http://stitidharma.org/intelektual-hindu-di-masa-depan/  diakses tanggal 26 Januari 2012
Bhagawan Dwija,2009, Peran Generasi Muda Hindu Dalam Memperkokoh Jati Diri Menuju Ajeg Hindu, http://stitidharma.org/peran-generasi-muda-hindu-dalam-memperkokoh-jati-diri-menuju-ajeg-hindu/